Hari ini satu pekan panjang yang penuh dengan kesibukan mengajar keliling negeri telah kulewati sekali lagi. Seperti biasa aku ingin menikmati situasi santai dalam penerbangan pulang, membaca yang ringan-ringan, bahkan memejamkan mata beberapa menit bilamana sempat. Kendati demikian, aku mencoba menerima apa pun yang akan terjadi.
Maka biasanya aku mengucapkan doa pendek berikut, "Siapapun yang Kau takdirkan duduk di sebelahku, biarlah ia seperti apa adanya, dan bantulah aku agar dapat menerima apa pun yang tersedia bagiku."
Pada hari yang khusus ini, ketika aku masuk ke dalam pesawat, ternyata seorang anak kecil berumur sekitar delapam tahun, duduk di kursi dekat jendela di sebelahku. Aku menyukai anak-anak. Namun, aku sedang merasa lelah. Naluri pertamaku adalah, "Apa boleh buat, aku tak tahu nasibku kali ini." Dengan berusaha bersikap ramah, aku menyapa dan mengajaknya berkenalan. Ia menyebutkan namanya, Bradley. Kami langsung mengobrol dan hanya selang beberapa menit, ia menaruh kepercayaan kepadaku, dengan berkata, "Ini pertama kali saya naik pesawat, saya agak takut."
Ia bercerita kepadaku, bahwa ia dan keluarganya baru menjenguk sepupu-sepupunya dan ia diminta tinggal lebih lama, sedangkan orang tuanya pulang terlebih dahulu. Kini ia pulang sendirian dengan pesawat terbang.
"Naik pesawat itu keciiil," kataku berusaha menumbuhkan keyakinan. "Mungkin dapat dianggap salah satu yang paling mudah di antara yang pernah kau lakukan. "Aku diam sejenak untuk berpikir, kemudian aku pertanya padanya, "Pernahkan kau naik roller coaster?"
"Saya senang naik roller coaster!"
"Pernahkah kau menaikinya tanpa berpegangan?"
Sementara aku berpura-pura ketakutan. "Pernahkah kau naik di depan?" tanyaku lagi dengan wajah pura-pura merasa ngeri.
"Ya. Saya selalu berusaha mendapatkan tempat duduk paling depan!"
"Dan kau tidak merasa takut?"
Ia menggelengkan kepalanya, tampaknya ia kini telah merasa berhasil mengimbangi aku.
"Sesungguhnya, penerbangan ini tidak seberapa dibanding naik roller coaster. Aku takut naik roller coaster, tapi aku berani bila naik pesawat terbang."
Seulas senyum mulai tampak pada wajahnya, "Betulkah itu?"
Aku dapat melihat, ia mulai berpikir bahwa mungkin ia memang pemberani.
Pesawat mulai bergerak menuju ke ujung landasan. Dan ketika akhirnya pesawat itu meluncur naik, ia memandangnya ke luar jendela dan mulai bercerita dengan sangat bersemangat tentang segala yang dialaminya. Ia mengomentari bentuk-bentuk awan yang dilihatnya, dan gambar-gambar yang seolah-olah telah dilukis di angkasa. "Awan yang ini seperti kupu-kupu, dan yang itu kelihatan seperti seekor kuda!"
Tiba-tiba, aku juga melihat melalui mata seorang anak usia delapan tahun. Rasanya seolah-olah aku baru pertama kali itu terbang. Belakangan Bradley bertanya tentang pekerjaanku. Aku bercerita tentang pelatihan yang kuselenggarakan, dan mengatakan bahwa aku juga membintangi iklan untuk radio dan televisi.
Matanya langsung bersinar. "Saya dan adik saya pernah menjadi bintang iklan televisi"
"Oh, ya? Bagaimana rasanya?"
Ia bercerita, bahwa pengalaman itu sangat mengesankan, Kemudian ia berkata, bahwa ia perlu ke kamar kecil. Aku berdiri agar ia dapat keluar ke gang. Saat itulah aku melihat alat penguat pada kedua kakinya. Bradley beringsut-ingsut menuju ke kamar kecil di belakang.
Ketika ia duduk kembali, ia menerangkan, "Saya menderita distrofi otot. Adik perempuan saya juga, ia bahkan harus memakai kursi roda. Itu sebabnya kami menjadi bintang iklan. Kami dijadikan contoh untuk anak-anak yang menderita distrofi otot."
Waktu pesawat mulai turun, ia memandang kepadaku, tersenyum, dan bicara dengan nada yang agak-agak malu, "Tahukan Anda, saya betul-betul khawatir tentang siapa yang akan duduk di sebelah saya di pesawat. Saya takut ia orang yang ketus yang tidak mau bicara dengan saya. Saya senang bisa duduk bersebelahan dengan Anda."
Ketika mengenang seluruh pengalaman itu pada malam harinya, aku diingatkan tentang untungya bersikap terbuka. Setelah sepekan penuh menjadi pengajar, begitu selesai aku justru menjadi siswa.
Sekarang setiap kali aku merasa suntuk dan itu cukup sering aku memandangkan ke luar jendela dan mencoba menebak bentuk awan yang tertulis di angkasa. Dan aku teringat dengan Bradley anak istimewa yang mengajariku pelajaran itu.
Maka biasanya aku mengucapkan doa pendek berikut, "Siapapun yang Kau takdirkan duduk di sebelahku, biarlah ia seperti apa adanya, dan bantulah aku agar dapat menerima apa pun yang tersedia bagiku."Pada hari yang khusus ini, ketika aku masuk ke dalam pesawat, ternyata seorang anak kecil berumur sekitar delapam tahun, duduk di kursi dekat jendela di sebelahku. Aku menyukai anak-anak. Namun, aku sedang merasa lelah. Naluri pertamaku adalah, "Apa boleh buat, aku tak tahu nasibku kali ini." Dengan berusaha bersikap ramah, aku menyapa dan mengajaknya berkenalan. Ia menyebutkan namanya, Bradley. Kami langsung mengobrol dan hanya selang beberapa menit, ia menaruh kepercayaan kepadaku, dengan berkata, "Ini pertama kali saya naik pesawat, saya agak takut."
Ia bercerita kepadaku, bahwa ia dan keluarganya baru menjenguk sepupu-sepupunya dan ia diminta tinggal lebih lama, sedangkan orang tuanya pulang terlebih dahulu. Kini ia pulang sendirian dengan pesawat terbang.
"Naik pesawat itu keciiil," kataku berusaha menumbuhkan keyakinan. "Mungkin dapat dianggap salah satu yang paling mudah di antara yang pernah kau lakukan. "Aku diam sejenak untuk berpikir, kemudian aku pertanya padanya, "Pernahkan kau naik roller coaster?"
"Saya senang naik roller coaster!"
"Pernahkah kau menaikinya tanpa berpegangan?"
Sementara aku berpura-pura ketakutan. "Pernahkah kau naik di depan?" tanyaku lagi dengan wajah pura-pura merasa ngeri.
"Ya. Saya selalu berusaha mendapatkan tempat duduk paling depan!"
"Dan kau tidak merasa takut?"
Ia menggelengkan kepalanya, tampaknya ia kini telah merasa berhasil mengimbangi aku.
"Sesungguhnya, penerbangan ini tidak seberapa dibanding naik roller coaster. Aku takut naik roller coaster, tapi aku berani bila naik pesawat terbang."
Seulas senyum mulai tampak pada wajahnya, "Betulkah itu?"
Aku dapat melihat, ia mulai berpikir bahwa mungkin ia memang pemberani.
Pesawat mulai bergerak menuju ke ujung landasan. Dan ketika akhirnya pesawat itu meluncur naik, ia memandangnya ke luar jendela dan mulai bercerita dengan sangat bersemangat tentang segala yang dialaminya. Ia mengomentari bentuk-bentuk awan yang dilihatnya, dan gambar-gambar yang seolah-olah telah dilukis di angkasa. "Awan yang ini seperti kupu-kupu, dan yang itu kelihatan seperti seekor kuda!"
Tiba-tiba, aku juga melihat melalui mata seorang anak usia delapan tahun. Rasanya seolah-olah aku baru pertama kali itu terbang. Belakangan Bradley bertanya tentang pekerjaanku. Aku bercerita tentang pelatihan yang kuselenggarakan, dan mengatakan bahwa aku juga membintangi iklan untuk radio dan televisi.
Matanya langsung bersinar. "Saya dan adik saya pernah menjadi bintang iklan televisi"
"Oh, ya? Bagaimana rasanya?"
Ia bercerita, bahwa pengalaman itu sangat mengesankan, Kemudian ia berkata, bahwa ia perlu ke kamar kecil. Aku berdiri agar ia dapat keluar ke gang. Saat itulah aku melihat alat penguat pada kedua kakinya. Bradley beringsut-ingsut menuju ke kamar kecil di belakang.
Ketika ia duduk kembali, ia menerangkan, "Saya menderita distrofi otot. Adik perempuan saya juga, ia bahkan harus memakai kursi roda. Itu sebabnya kami menjadi bintang iklan. Kami dijadikan contoh untuk anak-anak yang menderita distrofi otot."
Waktu pesawat mulai turun, ia memandang kepadaku, tersenyum, dan bicara dengan nada yang agak-agak malu, "Tahukan Anda, saya betul-betul khawatir tentang siapa yang akan duduk di sebelah saya di pesawat. Saya takut ia orang yang ketus yang tidak mau bicara dengan saya. Saya senang bisa duduk bersebelahan dengan Anda."
Ketika mengenang seluruh pengalaman itu pada malam harinya, aku diingatkan tentang untungya bersikap terbuka. Setelah sepekan penuh menjadi pengajar, begitu selesai aku justru menjadi siswa.
Sekarang setiap kali aku merasa suntuk dan itu cukup sering aku memandangkan ke luar jendela dan mencoba menebak bentuk awan yang tertulis di angkasa. Dan aku teringat dengan Bradley anak istimewa yang mengajariku pelajaran itu.
Komentar
Posting Komentar