
Aku malu mempunyai ayah sepertimu karena aku melihat ayah teman-temanku yang gagah. Setiap hari menjemput anaknya, mengambil rapor ketika kenaikan kelas dengan mobil mewah dan bekerja di perusahaan yang membuat mereka merasa bangga. Hingga akhirnya aku tak pernah membawa teman-temanku ke rumah karena malu punya ayah yang setiap harinya hanya tidur saja kerjanya.
Hingga akhirnya aku harus pergi dari rumah untuk melanjutkan kuliah ke kota Malang. Aku semakin jarang lagi beretmu dengamu, Ayah. Hanya ssat liburan saja aku pulang ke Bandung dan beretmu denganmu, itu pun cuma sebentar.
Tidak terasa sepuluh tahun kemudia setelah aku lulus kuliah, bekerja, dan menikah. Barulah aku sadari keberadaanmu yang selalu tulus mendoakan anak-anaknya. Setiap kali aku membutuhkan dirimu karena tidak ada pembantu di rumah unutuk menjaga anak, memperbaiki rumah yang bocor, membuat lemari, menemanimudik ke Malang maka ayahlah yang pertama kal menawarkan diri. Beliau bahkan rela tinggal di rumahku hingga berbulan-bulan lamanya, hanya untuk memastikan putrinya baik-baik saja.
Suatu hari aku membelikan beliau jagung bakar di dekat rumah. Kali pertama aku membelikannya jagung itu hanya setengah saja yang dimakan, sisanya diberikan kepada cucunya. Aku pikir ayahku suka karena kemarin diberikan kepada cucunya yang minta jagung bakarnya itu maka aku pun membelikan lagi pada suatu kesempatan lainnya. Ternyata jagung itu pun hanya dihabiskan setengahnya saja. Aku masih berpikir, "oh,,, mungkin Ayah gak suka rasanya."
Hari lainnya aku bertanya, "Kenapa kacangnya tidak di habiskan?" Ternyata jawab beliau sungguh di luar dugaanku.
"Sekarang gigi ayah sudah susah dipakai mengunyah yang keras-keras karena sudah goyang semua."
Dari jawaban itu aku tertegun, inilah ternyata alasanya mengapa jagung tak pernah habis, ketika kau masak sop iga, ayahku juga tidak menyentuhnya, padahal itu adalah makanan kesukaannya dulu.
Ayahku sudah bernjak senja, umurnya sudah 61 tahun. BEliau tetap saja mengasuh kami, anak-anaknya dengan cara sendiri. Anak-anakku pun sangat mencintainya. Beliau bisa larut dalam permainan dengan anak-anak. Tidak ada satu anak kecil pun yang tidak mau diajak main oleh ayahku. Beliaulah yang mengajari aku untuk selalu suka buku dan suka membaca. Hingga di usianya kini, setiap kali mempunyai sedikit uang maka yang pasti dibeli olehnya adalah buku. Keinginan dan motivasi untuk terus belajar tak pernah larut dalam usianya.
Ayahku, ayah yang biasa saja sebenernya. Satu-satunya yang jadi luar biasa adalah kenyataan bahwa dia adalah ayah kandungku, bukan yang lain. Kita tidak pernah bisa memilih, siapa dan bagaimana ayah atau ibuku kita. Tuhanlah yang memilih . Dan, itu pasti ada maksud yang baik.
Ayah... aku ingin sepertimu... selalu bersikap tulus pada setiap orang yang kautemui... sederhana dan bersahaja, tak pernah membedakan golongan, pangkat, dan jabatan, ramah kepada siapa pu, bisa melebur pada setiap orang yang kau kenal.
Ayah... aku ingin spertimu yang selalu mengatakan bisa untuk apa pun yang diminta oleh anak-anakmu dan cucu-cucumu. Bahkan anak sulugku berkata, bahwa kakeknya hebat, apa pun ia bisa, masak bisa, buat mainan bisa, membtetulkan rumah bisa, menyetir mobil bisa, dan bermain heboh dengan anak-anak juga bisa.
Ayah... aku ingin sepertimu, aku bangga kepadamu dalam kesahajaanmu, meski dulu aku pernah malu mempunyai ayah sepertimu. Maafkan aku... Ayah!!!
Komentar
Posting Komentar